Langsung ke konten utama
1. Arca PrajnaParamita :




Arca Prajnaparamita ini adalah salah satu mahakarya terbaik seni klasik Hindu-Buddha Indonesia, khususnya seni patung Jawa kuno.Arca ini diperkirakan berasal dari abad ke-13 Masehi pada era kerajaan Singhasari.
 Arca ini ditemukan di reruntuhan Cungkup Putri dekat Candi Singhasari, Malang, Jawa Timur. 

Menurut kepercayaan setempat, arca ini adalah perwujudan Ken Dedes yang merupakan ratu pertama Singhasari, Akan tetapi terdapat pendapat lain yang mengaitkan arca ini sebagai perwujudan Gayatri, istri Kertarajasa raja pertama Majapahit. Arca ini pertama kali diketahui keberadaannya pada tahun 1818 atau 1819 oleh D. Monnereau, seorang aparat Hindia Belanda. Pada tahun 1820 Monnereau memberikan arca ini kepada C.G.C. Reinwardt, yang kemudian memboyongnya ke Belanda dan akhirnya arca ini menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde di kota Leiden. Pada Januari 1978 Rijksmuseum voor Volkenkunde (Museum Nasional untuk Etnologi) mengembalikan arca ini kepada Indonesia, dan ditempatkan di Museum Nasional Indonesia. Kini arca yang luar biasa halus dan indah ini ditempatkan di lantai 2 Gedung Arca, Museum Nasional, Jakarta.

2. Naskah Kuno Nagarakretagama :



Naskah kuno Nagarakretagama ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi),

  Naskah ini semula dikira hanya terwariskan dalam sebuah naskah tunggal yang diselamatkan oleh J.L.A. Brandes, seorang ahli Sastra Jawa Belanda, yang ikut menyerbu istana Raja Lombok pada tahun 1894. Ketika penyerbuan ini dilaksanakan, para tentaraKNIL membakar istana dan Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar Nagarakretagama ini. Semua
naskah dari Lombok ini dikenal dengan nama lontar-lontar Koleksi Lombok yang sangat termasyhur. Koleksi Lombok disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda.

Naskah Nagarakretagama disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023. Lalu dengan kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia pada tahun 1973, naskah ini diserahkan kepada Republik Indonesia.selanjutnya Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan diberi kode NB 9.

3. Gong Geusan Ulun dan Gamelan Sari Oneng : 




Sebagian perangkat Gamelan Sari Oneng Parakan Salak di dalam Gedung Gamelan. Gong besar ini pernah tertinggal di Belanda setelah rombongan kesenian pentas di Amsterdam (1883), Paris (1889), dan Chicago. (1893, World Columbian Exposition) Pada tahun 1989 gong dikembalikan, konon katanya di Belanda sering bunyi sendiri.

4. 1500 Artefak yang dikembalikan belanda :




 berita dibalikannya 1500 Artefak dari Belanda ke Indonesia kerap menjadi perbincangan publik, terutama saat kunjungan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte saat menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka.

Disaat pertemuan kenegaraan itu, perdana menteri mark Rutte menyerahkan sebuah keris ke presiden Jokowi sebagai bentuk simbolis kalau Belanda ingin kembalikan Artefak-artefak nusantara yang lama tersimpan di Delft yaitu salah satu kota Belanda. Keris hanyalah salah satu dari 1500 Artefak yang ada di Belanda. Namun tawaran pengembalian artefak dan objek bersejarah lainnya sudah datang pada Tahun 2015.

 krisis ekonomi yang terjadi di Belanda telah berdampak dalam penutupan Museum  Nusantara yang terletak di delft, yang mana sudah berdiri selama beratus2 tahun dan merupakan satu-satunya museum yang menampilkan barang-barang bersejarah negara Indonesia di luar negeri. Ada Sekitar 30ribu artefak dari Pulau Sumatera, Nias, Jawa, Kalimantan hingga Maluku itu disana

Museum yang diduga menelan dana sekitar Rp 1,3 Milliar setiap tahunnya ini, resmi ditutup sejak 06 Januari 2013. Kunjungan Perdana Menteri Belanda ini menjadi puncak dari penerimaan kembali benda bersejarah tersebut yang telah diterima Presiden Jokowi.  Meskipun masih ada sejumlah kendala dalam mengelola museum di Indonesia, tapi pemerintah sudah melakukan banyak renovasi sejak survei dilakukan di 100 museum. Menyikapi langkah Belanda dalam pengembalian kembali artefak Indonesia ini, semoga akan menjadi pembelajaran penting untuk bangsa Indonesia agar dapat menjaga kekayaan sejarah dan budaya bangsa sendiri.

5. Pedang Aman Nyerang : 



Dikisahkan, berdasarkan sejarah, pedang ini adalah milik Aman Nyerang yang direbut oleh pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Jordans di hulu sungai Serbajadi Tanah Gayo.

Aman Nyerang yang tidak mau menyerah pada Belanda, memilih mengembara di hutan belantara selama 20 tahun sampai jenggotnya panjang dan berwarna abu-abu.

Setelah persembunyian dan identitasnya telah diketahui, maka pada 3 oktober 1922 dia disergap dan terbunuh. Dan pada akhirnya Pedang tersebut dibawa ke Belanda oleh Letnan Jordans dan menjelang akhir hayatnya, Jordans berpesan pada putrinya agar pedang tersebut dikembalikan ke Aceh untuk disimpan ke Museum Negeri Aceh.

Pada tahun 2000 Letnan Jordans meninggal dunia. Putrinya melaksanakan wasiatnya dan menyerahkan pedang tersebut, melalui pengurus Yayasan Dana Peucut di Belanda kepada Gubernur Abdullah Puteh pada 14 maret 2003.




Komentar